KELOMPOK SEBAGAI SISTEM SOSIAL

Tinggalkan komentar

April 2, 2012 oleh idhafarida

Kelompok bisa dipandang sebagai suatu sistem sosial. Namun yang penting dan perlu dibayangkan adalah adanya interaksi antar orang-orang dalam kelompok tersebut. Interaksi dapat diartikan sebagai bentuk kerjasama, tolong-menolong, persaingan, permusuhan atau persahabatan. Terdapat sepuluh unsur sistem sosial yang dapat kita jadikan pisau analisis untuk mendiagnosa penyakit suatu sistem sosial (Slamet, 2010).

 1.      Tujuan

Setiap kelompok harus punya tujuan, karena dibentuknya kelompok untuk mencapai tujuan. Tujuan adalah segala sesuatu yang ingin dicapai/dimiliki. Sebagai manusia kita memerlukan banyak hal yang harus dicapai baik sendiri maupun secara berkelompok.  Manusia berkelompok tidak lain adalah agar dapat memenuhi kebutuhan hidupnya yang tidak dapat dipenuhinya sendiri. Sebagai seorang analis, kita dapat menanyakan apa tujuan  yang hendak dicapai oleh suatu kelompok. Tujuan ini harus jelas dan dipahami sama oleh setiap anggota kelompok. Kelemahan kelompok akan nampak apabila tujuannya tidak jelas. Contoh: tujuan dalam membentuk kelompok tani harus jelas dan diketahui oleh masing-masing anggota sehingga mereka saling bekerjasama untuk mewujudkan tujuan tersebut.

 2.      Keyakinan (Belief)

Keyakinan adalah “pengetahuan atau aspek kognitif yang dimiliki oleh setiap anggota kelompok, yaitu segala sesuatu yang dianggap benar oleh sistem sosial. Keyakinan sosial dan kepercayaan publik secara luas akan muncul apabila masyarakat sudah melihat bukti dan merasakan manfaatnya .  Contoh:  Penerimaan bibit padi unggul oleh petani. Sebelumnya petani tidak begitu percaya ketika bibit padi unggul pertama kali diperkenalkan walaupun sudah dicoba berkali-kali. Namun, ketika hasilnya dapat dilihat langsung dan  manfaatnya dirasakan, akhirnya para petani meyakini bibit padi unggul tersebut mampu berproduksi lebih baik daripada bibit padi biasa. Keyakinan-keyakinan seperti itu harus dimiliki oleh anggota-anggota sistem sosial karena keyakinan dapat berfungsi sebagai perekat sistem sosial. Makin kuat keyakinan  bersama dalam suatu sistem sosial, maka semakin kompak sistem sosial tersebut.

3.      Sentimen

Sentimen adalah perasaan-perasaan dan emosi yang ada dalam kelompok. Kata sentimen diartikan sebagai perwujudan dari perasaan (sentimentil). Sentimen, emosi, feelling seseorang secara garis besar apakah seseorang itu senang atau tidak senang terhadap sesuatu.  Dalam sistem sosial, setiap  anggota harus mempunyai perasaan yang sama terhadap suatu hal. Dengan lain perkataan mereka harus punya kesan yang sama terhadap sesuatu. Contoh: suami istri harus punya perasaan yang sama terhadap anak. Membangun sentimen memerlukan waktu yang lama, dan harus dimulai ketika seseorang belum punya sentimen terhadap sesuatu. Patuh terhadap orang tua, kepercayaan terhadap agama dan keimanan merupakan contoh-contoh sentimen. Oleh karena itu, sentimen hendaklah dapat ditanamkan sejak kecil.

Dalam suatu sistem sosial, tidak mudah mewujudkan kesamaan sentimen, karena sering sekali sentimen ini dipengaruhi oleh berita-berita buruk. Oleh karenanya, perlu dicari upaya  agar berita dan fakta yang buruk tersebut jangan sampai mempengaruhi sentimen yang terbentuk.

4.      Norma

Norma adalah perilaku standar yang dapat diterima oleh sistem sosial. Norma masing-masing kelompok berbeda. Tiap kelompok/sistem sosial menganut norma-norma tertentu. Norma adalah suatu ketentuan tentang mana yang boleh dilakukan dan mana yang tidak boleh dilakukan. Bila tidak ada norma maka kehidupan ini akan kacau balau. Contoh:  norma berpakaian.  Bila tidak ada norma ini dapat anda bayangkan apa yang akan terjadi?

5.      Sanksi

Sanksi berkaitan dengan  sistem penghargaan atau hukuman yang dianut oleh kelompok sosial tertentu.  Bagi yang melanggar norma apa sanksinya, sebaliknya bagi yang berprestasi, apa penghargaannya.  Norma adalah peraturan yang tidak tertulis dan dimiliki masyarakat tertentu. Norma dan sanksi adalah pasangan yang perlu ada dalam kelompok sosial. Namun yang penting adalah bagaimana sanksi dan norma ini diterapkan dengan baik. Dapatkah Anda bayangkan alangkah kacaunya suatu sistem sosial jika tidak ada sanksi.

6.      Peran-Kedudukan

Peranan-kedudukan perlu diatur karena adanya kedudukan yang berbeda seperti:  ketua, sekretaris, bendahara dan lain-lain. Pada setiap kedudukan melekat seperangkat peranan yang harus dilakukan. Contoh:  Lurah adalah suatu kedudukan, melekat pada kata “Lurah” ada peranan mengatur masyarakat dan melaksanakan tugas pemerintahan di desa. 

Sebagai seorang analis sistem sosial, maka yang utama adalah harus ada proses pendidikan untuk melaksanakan peranan yang harus dilakukan sesuai dengan kedudukannya.  Untuk itu diperlukan proses sosialisasi peranan pada kedudukan masyarakat. Karena jika tidak dilaksanakannya dapat menimbulkan kekacauan. Berkaitan dengan peranan ada beberapa konsep yang terkait yaitu:

a.     Role Collition

Role collition adalah suatu keadaan dimana terdapat peranan-peranan yang tabrakan (kontradiktif). Contoh: seorang ayah yang bekerja sebagai polisi. Ketika anaknya melanggar peraturan, sebagai polisi ia harus memberikan sanksi yang tegas kepada  anakanya tersebut, tetapi disisi lain sebagi  seorang ayah ia harus pula melindungi anaknya. Dalam keadaan semacam itu, role collition semacam ini akan terjadi, dimana terjadi tabrakan antara peranan ayah sebagai kepala rumah tangga dan ayah sebagai polisi.

b.     Role incompatibility

Role incompatibility adalah perannya tidak cocok dengan orangnya. Contoh: seorang ayah yang tidak pernah beribadah menasehati anaknya untuk menjadi anak yang rajin beribadah. Peran seorang ayah yang besar dalam mendidik anaknya tidak diikuti dengan kemampuannya mencontohkan atau tidak memberikan teladan.

c.     Role-Confusion

Orang yang mempunyai peran tetapi mengalami kebingunan tentang apa yang harus dilakukannya. Misalnya ada perannya tetapi tidak tersedia sarananya. Contoh: ada beberapa tenaga penyuluh pertanian lapangan yang tidak dapat melaksanakan tugasnya dikarenakan adanya rasionalisasi tenaga penyuluh  di instansinya bekerja.

7.      Kekuasaan (Power Autority)

Kekuasaan adalah suatu kewenangan mengontrol atau mengendalikan orang lain dan   kewenangan mengambil keputusan. Ini adalah dua hal yang harus ada dalam sistem sosial. Siapa yang berwenang mengendalikan orang lain? Siapa yang mengambil keputusan? Bila setiap orang mempunyai perilaku yang berbeda-beda, maka sistem sosial tidak akan baik.  Oleh sebab itu, agar sistem sosial berjalan baik dan tertib, maka perlu ada yang  mengendalikan.

8.      Jenjang Sosial (Social-Rank)

Di dalam masyarakat, baik   adat maupun modern, selalu ada  perbedaan kedudukan atau jenjang sosial. Pada masing-masing jenjang sosial tercermin kedudukan dan melekat prestise. Contoh: seorang mandor tentu akan mendapatkan gaji yang lebih besar dari tukang, seorang tukang tentu gajinya akan lebih besar dari seorang kuli.

Jenjang sosial atau kedudukan selalu ada di dalam suatu sistem sosial. Mengapa?  Karena jenjang sosial dan kedudukan tersebut membuat seseorang termotivasi untuk maju.  Setiap orang termotivasi untuk bekerja. Contoh:  Prajurit terbuka untuk menjadi Bintara, ini berarti ada kemungkinan untuk naik jenjang.  Namun sebaliknya, jika seorang Kolonel tidak tahu bahwa dia memungkinkan untuk menjadi Jenderal maka dalam kerjanya dia tidak akan termotivasi. Jika seseorang sudah mencapai puncak harapannya, tentu harus mencari motivasi yang lain.

9.      Fasilitas

Setiap sistem sosial punya tujuan dan untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan fasilitas. Fasilitas ini adalah semua hal yang bisa memudahkan pencapaian tujuan atau wahana mewujudkan tujuan kelompok. Masalahnya sekarang, ada atau tidak fasilitas untuk mencapai tujuan. Contoh: Mahasiswa S1 Agribisnis UT memerlukan sarana internet untuk mengakses tutorial online Dinamika Kelompok. Bagaimana kecepatan jaringan internetnya? Cepat atau tidak?  Fasilitas ini sangat diperlukan untuk proses interaksi mereka.

10.  Tekanan dan Ketegangan

Tekanan pada kelompok dimaksudkan adalah adanya tekanan-tekanan dalam kelompok yang dapat menimbulkan ketegangan, dengan adanya ketegangan akan timbul dorongan untuk mempertahankan tujuan kelompok. Tekanan kelompok yang cermat dan terukur akan dapat mendinamiskan kelompok, bila tidak justru akan berakibat sebaliknya.

Secara teoritis, kelompok sebagai sistem sosial yang sehat harus memiliki ke-10 unsur pokok sistem sosial tersebut. Perlu diteliti apakah kelompok yang kita amati  memiliki unsur-unsur pokok sistem sosial tersebut?. Masing-masing unsur merupakan “peubah” yang bisa berpengaruh baik, sedang, atau buruk.  Masing-masing unsur punya kualitas interaksi yang mempengaruhi dinamika kelompok.

 

REFERENSI

Slamet, M. 2010. Materi Kuliah Manajemen Kelompok dan Organisasi. Bogor: Disampaikan pada Mahasiswa Program S2 Program Studi Ilmu Penyuluhan Pembangunan (PPN) Sekolah Pascasarjana IPB, Maret – April 2010.

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

April 2012
S S R K J S M
« Mar    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30