KONFLIK DAN NEGOSIASI

Tinggalkan komentar

April 19, 2012 oleh idhafarida

Definisi Konflik

Pluralisme atau keaneka-ragaman merupakan realitas hidup dalam bermasyarakat. Bermacam-macam kelompok sosial, organisasi, badan-badan pemerintah, usaha-usaha swasta, perkumpulan, dan gerakan-gerakan sosial, masing-masing mempunyai interest, tujuan dan daerah operasi sendiri-sendiri.

Dalam keberadaan bersama dan kehidupan bermasyarakat dengan orang lain, friksi atau gesekan, perselisihan, tabrakan, pertikaian dan konflik itu merupakan bagian hakiki dari kehidupan. Oleh karena itu juga menjadi bagian dari manajemen atau kepemimpinan, khususnya kepemimpinan pada eselon puncak.

Robbin (2007) mengatakan konflik dalam organisasi disebut sebagai The Conflict Paradoks, yaitu pandangan bahwa konflik dianggap dapat meningkatkan kinerja kelompok, tetapi di sisi lain kebanyakan kelompok dan organisasi berusaha untuk meminimalisasikan konflik. Pandangan ini dibagi menjadi tiga bagian, antara lain:

  1. Pandangan tradisional (The Traditional View). Pandangan ini menyatakan bahwa konflik itu hal yang buruk, sesuatu yang negatif, merugikan, dan harus dihindari. Konflik disinonimkan dengan istilah violence, destruction, dan irrationality. Konflik ini merupakan suatu hasil disfungsional akibat komunikasi yang buruk, kurang kepercayaan, keterbukaan di antara orang-orang, dan kegagalaan manajer untuk tanggap terhadap kebutuhan dan aspirasi karyawan.
  2. Pandangan hubungan manusia (The Human Relation View). Pandangan ini menyatakan bahwa konflik dianggap sebagai suatu peristiwa yang wajar terjadi di dalam kelompok atau organisasi. Konflik dianggap sebagai sesuatu yang tidak dapat dihindari karena di dalam kelompok atau organisasi pasti terjadi perbedaan pandangan atau pendapat antar anggota. Oleh karena itu, konflik harus dijadikan sebagai suatu hal yang bermanfaat guna mendorong peningkatan kinerja organisasi. Dengan kata lain, konflik harus dijadikan sebagai motivasi untuk melakukan inovasi atau perubahan di dalam tubuh kelompok atau organisasi.
  3. Pandangan interaksionis (The Interactionist View). Pandangan ini cenderung mendorong suatu kelompok atau organisasi terjadinya konflik. Hal ini disebabkan suatu organisasi yang kooperatif, tenang, damai, dan serasi cenderung menjadi statis, apatis, tidak aspiratif, dan tidak inovatif. Oleh karena itu, menurut pandangan ini, konflik perlu dipertahankan pada tingkat minimum secara berkelanjutan sehingga tiap anggota di dalam kelompok tersebut tetap semangat, kritis – diri, dan kreatif.

 

Model Konflik

Perkembangan sebuah model konflik berguna untuk konflik keorganisasian. Pertama-tama yang diperlukan adalah mengidentifikasi sumber-sumber konflik, dan kemudian mempelajari tahapan-tahapan perkembangan konflik tipikal. Model konflik memberikan banyak petunjuk tentang bagaimana cara mengendalikan dan mengelola konflik di dalam suatu organisasi. Menurut Nuraeni dan Satari (2005), konflik merupakan sebuah proses yang terdiri dari lima macam episode sekuensial atau tahapan-tahapan berikut ini:

Tahapan 1: Konflik Laten

Pada tahapan pertama, tidak terdapat adanya konflik terbuka, tetapi potensi untuk munculnya konflik ada, walaupun ia bersifat laten. Konflik keorganisasian muncul karena diferensiasi vertikal dan horizontal menyebabkan timbulnya berbagai macam subunit keorganisasian, dengan tujuan-tujuan yang berbeda-beda, dan seringkali muncul pula persepsi-persepsi berbeda tentang bagaimana cara terbaik untuk melaksanakan upaya pencapaian tujan-tujuan tersebut.

Tahapan 2: Konflik yang Dispersepsi

Tahapan kedua ini diawali dengan situasi di mana sebuah subunit atau kelompok kepentingan tertentu merasa bahwa tujuan-tujuannya terbengkalai yang disebabkan oleh tindakan-tindakan kelompok lain. Pada tahapan ini masing-masing subunit mulai merumuskan mengapa konflik tersebut muncul, dan mulai menganalisis kejadian-kejadian yang menyebabkan timbulnya konflik tersebut. Masing-masing mencari akar konflik, dan mulai mengkonstruksi sebuah skenario yang mengungkapkan problem-problem yang dialaminya dengan subunit-subunit lainnya.

Tahapan 3: Konflik yang Dirasakan

Pada tahapan ini, subunit-subunit yang terlibat dalam konflik, dengan cepatnya mengembangkan suatu reaksi emosional terhadap satu sama lain. Sewaktu konflik makin meningkat, maka kerja sama antara subunit-subunit menyusut dan efektivitas keorganisasian juga menyusut.

Tahapan 4: Konflik Termanifestasi

Pada tahapan keempat, sebuah subunit mulai “menyerang” subunit lain dengan jalan menghalangi tujuannya.konflik termanifestasi dapat bermacam-macam bentuk. Hal yang bersifat umum adalah agresi terbuka antar orang-orang dan kelompok-kelompok. Pada umumnya dapat dikatakan bahwa dengan timbulnya konflik termanifestasi maka efektivitas keorganisasian akan menyusut, karena koordinasi dan integrasi antara para manajer dan subunit-subunit menjadi porak poranda.

 

Definisi Negosiasi

Menurut Wall (Robbins, 2007), negosiasi atau perundingan adalah proses dimana dua pihak atau lebih bertukar barang atau jasa dan berupaya menyepakati nilai tukar barang dan jasa tersebut. Negosiasi atau perundingan mewarnai interaksi hampir semua orang dalam kelompok dan organisasi. Contohnya adalah tawar menawar antara karyawan dengan pihak manajemen mengenai gaji.

 

Dalam negosiasi seringkali kita berhadapan dengan dengan orang-orang yang lebih suka mempertahankan pendirian yang kaku, dengan gaya garis keras, tanpa menyadari adanya alternatif yang lebih efektif. Jika hal ini terjadi, petunjuk berikut perlu Anda perhatikan:

  1. Pertahankan pendekatan yang sopan dan profesional
  2. Jangan membalas perilaku yang tidak menyenangkan
  3. Terus menegosiasikan kepentingan Anda, sambil bertanya tentang alasan pendirian mereka dan cobalah untuk memperlihatkan kelemahan pendirian mereka dengan diskusi yang logis dan masuk akal.
  4. Mintalah pandangan dan kritikan terhadap pendirian Anda, sarankan lawan Anda untuk mencoba melihat situasi dari sudut pandang Anda.
  5. Pusatkan pada permasalahan yang sedang dibahas
  6. Jangan tanggapi serangan yang bersifat pribadi dan tidak masuk akal dengan tetap berdiam diri.
  7. Mintalah kriteria, alasan-alasan, data-data pendukung, kesimpulan atau petunjuk yang obyektif.
  8. Perlihatkan antusiasme Anda untuk suatu solusi yang adil dan ungkapkan kembali kesediaan Anda untuk mencapai dan menyetujui kriteria yang obyektif.
  9. Perhatikan tanda-tanda adanya kerjasama dan beri dukungan, sambutan, pujian, dan kepastian bahwa kerjasama akan menjadi pusat perhatian Anda.
  10. Secara periodik buatlah ringkasan bidang-bidang yang telah mencapai kesepakatan, dengan memperlihatkan antusiasme Anda pada langkah-langkah yang telah berhasil membawa kesepakatan.
  11. Jangan menanggapi trik-trik berikut:
  • Serangan terhadap pribadi, nama orang, dan lain-lain.
  • Komentar-komentar yang menyesatkan, rumor dan kebenaran yang tidak utuh.
  • Pertanyaan-pertanyaan retoris.
  • Hal-hal yang menyerempet bahaya.
  • Tuntutan yang tinggi dan mustahil.
  • Sarkasme.
  • Upaya-upaya untuk membuat Anda stress.
  • Diperkenalkannya pada menit terakhir orang baru yang berwenang membuat keputusan, setelah.
  • sebelumnya Anda mendapat penjelasan bahwa Anda tengah bernegosiasi dengan pembuat keputusan.
  1. Jika semua upaya gagal, bersiaplah untuk menunda diskusi. Gunakan waktu penundaaan untuk:
  • Menurunkan ketegangan.
  • Mempelajari kembali pokok-pokok yang telah disetujui dan item-item yang belum dibahas.
  • Mempelajari kembali situasi negosiasi.
  • Mengamati lebih lanjut mitra negosiasi Anda.
  • Mencari persetujuan atau otorisasi lebih lanjut yang mungkin Anda butuhkan.

 

 

REFERENSI

 

Robbins,  S.P. (2007). Perilaku Organisasi. PT Macanjaya Cemerlang.

Nuraeni, S, Satari AU. (2005). Organisasi Sosial dan Kepemimpinan. Jakarta: Pusat Penerbitan Universitas Terbuka.

Hadi, I. P. (2001). Teknik Negosiasi untuk Sukses. http://jihadi.staff.umm.ac.id/files/2010/01/9_teknik_negosiasi.pdf. [diakses tanggal 2 Maret 2012]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

April 2012
S S R K J S M
« Mar    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30